Galeri Wayang Purwakarta sebagai Inovasi Pemerintah Kabupaten Purwakarta dalam Melestarikan Budaya Indonesia
Main Article Content
Abstract
Kurang dikenalnya wayang sebagai budaya khas Indonesia oleh generasi muda saat ini, menimbulkan permasalahan yang krusial dalam bidang kebudayaan nasional. Permasalahan tentang kurang dikenalnya wayang tersebut, menyebabkan klaim kepemilikan wayang oleh negara lain. Berlatar belakang dari permasalahan tersebut, maka Pemerintah Kabupaten Purwakarta menggagas dan mendirikan Galeri Wayang Purwakarta sebagai inovasi untuk melestarikan wayang sebagai kebudayaan Indonesia. Penelitian tentang Galeri Wayang Purwakarta sebagai Inovasi Pemerintah Kabupaten Purwakarta dalam melestarikan budaya Indonesia ini, bertujuan untuk mengungkap lebih dalam tentang dua realitas berikut, yaitu: (1) Galeri Wayang Purwakarta sebagai Inovasi dalam Bidang Kebudayaan; (2) Strategi Melestarikan Budaya Indonesia melalui Galeri Wayang Purwakarta. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, maka didapatkan dua temuan penting dalam penelitian ini, yaitu: (1) Galeri Wayang Purwakarta sebagai inovasi dalam bidang kebudayaan memiliki dua fungsi, yakni untuk melestarikan wayang sebagai warisan budaya Indonesia dan memperkenalkan budaya wayang kepada generasi muda; (2) Strategi melestarikan budaya Indonesia melalui Galeri Wayang Purwakarta dilakukan dengan tiga cara, yakni menjadikan Galeri Wayang sebagai tempat rekreasi, menjadikan Galeri Wayang sebagai sarana edukasi, dan menjadikan Galeri Wayang sebagai media sosialisasi. Temuan dalam hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi bagi upaya pelestarian dan pengenalan tradisi, kesenian dan kebudayaan nasional, agar kebudayaan nasional bisa terus eksis mengikuti perkembangan zaman.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Fauziah, A. N., Rohman, A. A., Madina, W. O. G., & Hariyanti, N. (2020). Wayang Ukur sebagai Media Representasi Indonesia. Channel: Jurnal Komunikasi, 8(1), 43–50. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.12928/channel.v8i1.15096
Hasanah, H. (2016). Teknik-Teknik Observasi: Sebuah Alternatif Metode Pengumpulan Data Kualitatif Ilmu-ilmu Sosial. At-Taqaddum, 8(1), 21–46. https://doi.org/10.21580/at.v8i1.1163
Hendrawan, Y. F. (2016). Galeri Wayang Topeng Malangan di Malang. e-Dimensi Arsitektur Petra, 4(2), 849–856. https://publication.petra.ac.id/index.php/teknik-arsitektur/article/view/5342
Honigmann, J. J. (1959). The World of Man. Harper & Row.
Ilhamullah, M., & Rachmawati, M. (2014). Kesinambungan pada Galeri Kesenian Wayang Kulit Jawa Timur. Jurnal Sains dan Seni ITS, 3(2), 42–45. https://doi.org/10.12962/j23373520.v3i2.6546
Kementerian Pariwisata. (2018). Air Mancur Sri Baduga Purwakarta. Kementerian Pariwisata. https://m.youtube.com/watch?v=GaxV-bQZRqw
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2023, December 19). 5 Jenis Wayang yang Berkembang di Nusantara Menurut AKN Seni dan Budaya Yogyakarta [Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi]. https://vokasi.kemdikbud.go.id/read/b/5-jenis-wayang-yang-berkembang-di-nusantara-menurut-akn-seni-dan-budaya-yogyakarta
Krisdiani, V. (2019, September 8). 10 Tokoh Wayang Golek Legendaris Tanah Tanah Pasundan, Kenalan Yuk! IDN Times. https://www.idntimes.com/science/discovery/vini-krisdiani/10-tokoh-wayang-golek-legendaris-tanah-pasundan-kenalan-yuk-c1c2
Kusuma, S. V. J. (2021). Politik Wacana Over Claiming Wayang sebagai Identitas Intangible Heritage Indonesia dan Malaysia. Jurnal KIBASP: Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajaran, 4(2), 229–240. https://doi.org/https://doi.org/10.31539/kibasp.v4i2.2165
Murtiasri, E., Suharto, & Sartono. (2015). Peningkatan Kualitas Produk Dan Kompetensi Pengrajin Wayang Kulit Menuju Pasar Sasaran Ekspor. Jurnal DIANMAS, 4(2), 71–82. https://jurnaldianmas.org/index.php/Dianmas/article/view/35
Muzzammil, F. (2021). Dimensi Dakwah Islam dalam Budaya Nyepuh. Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama, 4(1), 1–15. https://doi.org/https://doi.org/10.15575/hanifiya.v4i1.10964
Muzzammil, F. (2023). Strategi Komunikasi Bisnis Waralaba Mixue: Studi pada Gerai Mixue Purwakarta. Kontekstual: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(2), 115–133. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.36448/jik.v2i2.3466
Parjiati, Sarwono, A. W., & Sarbini. (2023). Museum Wayang Kekayon Dalam Kajian Manajemen Destinasi Pariwisata. UliI Albab: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(7), 1700–1726. https://doi.org/https://doi.org/10.56799/jim.v2i5.1500
Patton, M. Q. (2002). Two Decades of Developments in Qualitative Inquiry: A Personal, Experiential Perspective. Qualitative Social Work, 1(3), 261–283. https://doi.org/https://doi.org/10.1177/1473325002001003636
Rohidi, T. R. (2014). Pengembangan Media Pembelajaran Pendidikan Seni Budaya Berbasis Kearifan Lokal (Wayang sebagai Sumber Gagasan). Imajinasi: Jurnal Seni, 7(1), 1–8. https://doi.org/https://doi.org/10.15294/imajinasi.v7i1.7284
Ruslan, I. (2015). Penguatan Ketahanan Budaya dalam Menghadapi Derasnya Arus Budaya Asing. Jurnal Tapis: Jurnal Teropong Aspirasi Politik Islam, 11(1), 1–19. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.24042/tps.v11i1.838
Sahria, Y., Sudira, P., & Priyanto. (2022). Pemanfaatan Teknologi Augmented Reality (AR) Markerless sebagai Media Edukasi Wayang Kulit pada Filter Snapchat Menggunakan Lens Studio. Ilkomnika: Journal of Computer Science and Applied Informatics, 4(3), 204–296. https://doi.org/https://doi.org/10.28926/ilkomnika.v4i3.519
SINDO News. (2021, November 17). 8 Budaya Indonesia Pernah Diklaim Malaysia, dari Batik hingga Wayang Kulit. SINDO News. https://nasional.sindonews.com/read/601555/15/8-budaya-indonesia-pernah-diklaim-malaysia-dari-batik-hingga-wayang-kulit-1637100680